news24xx.com
News24xx

Ekonomi

Sejak Kemarin Hingga Saat Ini, DOllar AS Tetap di Level IDR 15,000 Per Dollar

news24xx

Illustration Illustration

News24xx.com - Dollar Amerika Serikat (AS) akhirnya kembali menembus level psikologis di Rp 15.000. Mengutip data perdagangan Reuters, Selasa (2/10/2018), dollar AS siang ini berada di Rp 15.001, dan penutupan pada sore hari di posisi Rp 15.049

 

Bila melihat kembali ke tiga bulan terakhir, rupiah sudah beberapa kali terdepresiasi, dan pada awal bulan Oktober 2018 ini mencapai 7,6 persen.

 

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai tukar dolar AS yang hampir menyentuh Rp 15.000 sendiri banyak dipengaruhi kondisi global. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan AS kebijakan moneter The Fed, hingga pengaruh perang dagang AS. 

 

Akibat berbagai kebijakan dari AS tersebut membuat peredaran mata uang dollar AS jadi terbatas. Hal ini yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan pasokan dollar AS di dalam negeri menjadi berkurang. 

 

Menkeu mengatakan, setidaknya ada dua penyebab melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 15.000 per dolar AS.

 

Pertama, pasar merasa suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate belum cukup atraktif untuk menjadi insentif bagi investor untuk “memegang” rupiah kendati Bank Indonesia memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 26-27 September 2018.

 

"Jika dihitung dari level terendahnya The Fed sudah menaikkan suku bunga sampai 200 bps. Sedangkan BI baru 150 bps dari 4,25 persen ke 5,75 persen. Berarti memang perlu suku bunga yang lebih atraktif lagi," ujarnya, Selasa (2/10/2018).

 

Faktor kedua, adalah kenaikan harga minyak global yang memberi sentimen negatif bagi kondisi fiskal Indonesia. "Kini harga minyak Brent sudah mencapai 83 dolar AS per barrel, jauh melebihi asumsi harga minyak APBN di level 48 dolar AS per barrel," lanjutnya.

 

Menurutnya, rupiah akan cenderung stabil di level Rp 15 ribu hingga akhir tahun ini jika otoritas moneter kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan dan Pemerintah bisa segera mengerem impor, sehingga defisit transaksi berjalan bisa ditekan di bawah 3 persen Produk Domestik Bruto.

 

 

 

News24xx.com/fik/red

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages


Berita Terkait

Loading...
loading...