news24xx.com
News24xx

Nasional

Seorang Balita Di Desa Dadapayam Terinfeksi Rubella, Begini Keadaannya Sekarang

news24xx

Illustration Illustration

News24xx.com - Rubella termasuk dalam penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Bagi ibu hamil, serangan virus rubella bisa menyebabkan dampak serius karena menyerang anak yang dikandungnya. 

 

Semenjak ada program vaksinasi rubella yang dilakukan sejak tahun 1980-an, kasus penyakit ini cenderung menurun. Hanya saja, karena ada banyak orang yang anti dengan program imunisasi belakangan ini, kasus rubella kembali muncul dan menjadi momok bagi dunia kesehatan, khususnya di Indonesia.

 

Pemerintah telah memberikan dan mengumumkan dalam program yang dipublikasikannya. Waktu dan tempat juga telah disampaikan kepada masyarakat untuk membawa bayi dan balitanya untuk dilakukan suntik vaksin.

 

Salah satu kasus yang terjadi adalah pada balita yang berusia 2 tahun 3 bulan bernama Ayni Tiya Rahmadani yang berasal dari Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Ia terinfeksi virus rubella. Akibatnya, ia kini terkena gangguan pendengaran dan penglihatan. Dilansir dari pemberitaan Doktersehat.com (4/12).

 

Kalo dilihat secara sepintas, Ayni terlihat seperti anak yang aktif pada umumnya, namun ia sudah menjalani berbagai terapi, termasuk terapi wicara yang dilakukan di RSUP dr. Kariadi yang ada di Kota Semarang.



BACA JUGA : Penjualan Di Era Digital, Belum Ada Sistem Pengawasan Obat dan Makanan Di BPOM

 

Sang ibu, Siti Zakiyah menyebut buah hatinya mulai mengalami gejala terinfeksi rubella saat usianya baru 1 bulan. Awalnya Ayni mengalami gejala seperti bintik-bintik putih yang muncul di retina matanya. 

 

Sang ibu sempat memeriksakannya ke puskesmas setempat, tapi diminta untuk memeriksakannya ke rumah sakit mata. Awalnya, Ayni didiagnosis terkena katarak. Siti sempat tidak percaya dan memeriksakan anaknya kembali ke RSUP dr. Kariadi.

 

Bayi yang mengalami masalah katarak harus ditangani dengan prosedur operasi, namun karena kondisi Ayni yang masih bayi, prosedur ini masih belum bisa dilakukan. Hal inilah yang membuat Siti sempat kebingungan.

 

Dari hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di RS dr. Kariadi saat usia Ayni 3 bulan justru menunjukkan fakta yang berbeda, yakni penyebab dari gejala dari berbagai masalah yang dideritanya ternyata adalah virus rubella. 

 

Ayni kemudian mendapatkan penanganan medis yang lebih serius, termasuk pemeriksaan pada hidung, telinga, dan tenggorokan. Setelah usianya mencapai 5 bulan, Ayni kemudian menjalani operasi katarak untuk mata kirinya dan sebulan kemudian mendapatkan operasi katarak untuk mata kanan.

 

Selain gangguan pada mata dan telinganya, Ayni ternyata juga mengalami dampak lain akibat serangan virus rubella, yakni kebocoran pembuluh darah menuju jantung.



BACA JUGA : Hati-hati, Para Ahli Mengatakan Jakarta Akan Tenggelam Lebih Cepat Dari yang Kita Duga

Karena alasan inilah sejak usia Ayni enam bulan, ia harus minum obat secara teratur. Bahkan, sejak usianya delapan bulan, Ayni harus rutin menjalani terapi di RS dr. Kariadi Semarang yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya setiap hari Selasa dan Kamis. 

 

Terapi yang dijalani oleh Ayni berupa fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi, Hanya saja, terapi ini sekarang hanya dilakukan seminggu sekali, yakni setiap hari selasa.

 

Pada Agustus 2018 lalu, Ayni sempat mendapatkan operasi kateterisasi jantung di rumah sakit yang sama. Beruntung, biaya operasi ini ditanggung oleh BPJS Kesehatan. 

 

Dan selain itu, kini Ayni juga harus memakai alat bantu pendengaran yang harus dilepas setiap kali tidur dan mandi dan setiap minggunya harus diganti baterai. Khusus untuk kondisi mata, Ayni juga harus memakai kacamata plus.

 

Sebenarnya, dokter sempat meminta Ayni untuk memasang implan alat bantu dengar di dalam telinga, namun alat dan proses pemasangannya memiliki harga sangat mahal, tepatnya mencapai ratusan juta. Karena alasan inilah orang tua Ayni hanya membelikan alat bantu pendengaran yang bisa dipasang dan dilepas.

 

Kondisi kesehatan Ayni juga membuatnya mengalami susah makan. Demi memberikan nutrisi bagi buah hatinya, orang tua Ayni pun memberikan susu 7 hingga 8 kali setiap hari dengan botol berukuran 150 ml.

 

 

 

News24xx.com/fik/red

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages


Berita Terkait

Loading...
loading...